Sebagian kita mungkin mengira bahwa hanya orang dewasa saja yang mengalami permasalahan psikis, namun realitanya banyak gangguan yang tidak kita sadari sedang dialami oleh anak. Yang memiliki perilaku menentang misalnya. Ada anak yang usilnya bukan main ke teman-temannya, baginya ini sebuah kepuasan dan hal yang biasa. Bahkan bagi sebagian orangtua, anak ini dianggap “nakal” saja, hanya hal yang lumrah terjadi di masa kanak-kanak dan tak perlu dibesar-besarkan. Namun dalam ilmu psikologi, kasus seperti ini masuk dalam masalah psikis, tentunya perlu penanganan lebih dalam dan berkelanjutan.
Penyebab Permasalahan Psikologis pada Anak
Yakni adanya ketimpangan pendampingan saat tumbuh kembang anak. Pasangan suami istri seyogyanya saling bekerjasama dalam mendidik anak, namun tidak sedikit kita jumpai kealpaan peran Ayah di sini, padahal kehadiran Ayah dalam keluarga sangat berpengaruh pada tumbuh kembang dan kecerdasan anak.
Deteksi Dini Permasalahan Psikologis pada Anak
Apa sih pentingnya kita tahu anak kita bermasalah psikisnya atau tidak?
Mengetahui lebih dini hambatan tumbuh kembang pada anak
Lebih awal terdeteksi, lebih mudah penanganannya. Kebanyakan realita yang ada justru orang tua mendapati anak keadaan yang sudah terlanjur parah, dan tentunya kalau sudah di fase ini membutuhkan penanganan ekstra.
Menentukan penanganan yang tepat yang sesuai dengan kondisi anak.
Sebagaimana obat, maka untuk menangani masalah psikis pun butuh dosis yang tepat, tidak boleh kurang atau berlebih. Karenanya berkonsultasi dengan psikolog sangat dianjurkan untuk pengarahan sesuai permasalahan.
Pembentukan lingkungan yang mendukung perubahan pada anak
Lingkungan yang suportif dan kondusif terutama keluarga sangat berpengaruh pada perbaikan tumbuh kembang anak. Karenanya kesadaran dan kepedulian antar anggota perlu diajarkan dan dibiasakan demi pemulihan psikis anak.
Gangguan Tumbuh Kembang pada Anak
Gangguan Perkembangan Pervasif
Yakni ketidakmampuan yang nyata pada berbagai area perkembangan. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi diduga karena abnormalitas otak (kerusakan genetik atau janin yang terpapar racun)
Berikut gangguan psikis yang masuk dalam poin ini:
Asperger : Interaksi sosial dan perilaku stereotip yang buruk tetapi tanpa defisit yang signifikan pada bahasa atau kognitif seperti pada autisme.
Autisme : Defisit utama dalam berhubungan dengan orang lain, ketidakmampuan bahasa dan fungsi kognitif, rentang aktifitas dan minat terbatas.
Retardasi Mental
Yakni keterlambatan yang meluas dalam perkembangan kognisi dan fungsi sosial. Diagnosis berdasarkan Skala IQ yang rendah dan fungsi adaptasi yang buruk. Beberapa penyebabnya adalah:
Abnormalitas kromosom seperti Down Syndrome
Abnormalitas genetik seperti Sindrom Fragile X
Infeksi janin/penyalahgunaan obat pada ibu hamil
Gangguan Belajar
Yakni defisiensi pada kemampuan belajar spesifik dalam konteks, setidaknya intelegensi anak rata-rata dan masih memiliki kesempatan belajar.
Gangguan Matematika
Gangguan Menulis
Gangguan Membaca (Disleksia)
Faktor penyebabnya belum jelas, namun pada anak disleksia kemungkinan karena genetik dan abnormalitas otak dalam memproses informasi visual dan auditori.
Gangguan Komunikasi
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Perilaku Bermasalah
Jenis gangguannya sebagai berikut:
Gangguan Tingkah Laku
Gangguan Tingkah laku menentang
Gangguan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder)
Penyebabnya:
Faktor keluarga (konflik ortu-anak, konflik perkawinan yang negatif, interaksi orangtua anak yang penuh dengan paksaan).
Pengasuhan yang buruk (kurangnya reinforcement untuk perilaku yang tepat).
Khusus anak dengan gangguan ADHD, kemungkinan faktor genetis dan abnormal otak.
Kecemasan dan Depresi
Yaitu gangguan emosi yang mempengaruhi anak-anak dan remaja. Penyebabnya adalah:
Faktor kognitif. Anak dengan gangguan ini memiliki pola pikir disfungsional, terlihat pada anak yang depresi dan cemas seperti halnya orang dewasa.
Kejadian yang menimbulkan stres, masalah konflik keluarga dan kurangnya dukungan sosial.
Faktor genetik terutama pada depresi.
Gangguan Eliminasi
Enuresis (kurang kontrol terhadap BAK), sering terjadi di malam hari.
Enkopresis (kurang kontrol terhadap BAB), sering terjadi di siang hari.
