أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّمَّا كَسَبُوا وَاللهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Mereka itulah yang memperoleh ganjaran dari apa yang telah mereka usahakan, dan Allah Maha Cepat perhitungan-Nya. (QS. Al-Baqarah: 202)
Mendidik anak adalah bagian dari usaha orang tua
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631).
Maka memiliki anak shalih merupakan cita-cita para orang tua. Lalu pendidikan seperti apa yang seharusnya ditempuh, kemana arah tujuan pendidikan anak agar tercetak generasi shalih yang senantiasa mendoakan kedua orangtua?
Sebelum jauh berkecimpung dalam dunia pendidikan anak, kedua orang tua (suami dan istri) harus sadar bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya dilimpahkan pada salah satu belah pihak saja, sebagaimana firman Allah pada surat At Tahrim ayat 6 di atas. Di ayat lain Allah ta'ala berfirman:
ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Keturunan itu sebagiannya merupakan (turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).
Ketika kedua orang tuanya baik, terus belajar, dan membenahi diri maka insya Allah akan mencetak anak yang baik pula. Selayaknya suami istri saling *bekerja sama* untuk mencapai tujuan pendidikan, karena kelak kedua orang tua akan dimintai pertanggungjawabannya.
📷 Desain by: Syifa Ummu Humayra
📌Referensi: konsultasisyariah.com muslim.or.id

