Pengurusan Jenazah yang Sesuai Sunnah

Kematian adalah suatu kepastian. Ketika telah sampai waktunya, kita berharap bisa kembali kepada Allah dalam keadaan yang diridaiNya, termasuk bagaimana jenazah bisa ditangani sesuai syariatNya. 

Yuk, kita simak tata cara pengurusan jenazah yang sesuai sunnah, MomSI! 


Jika di dalam keluarga kita ada salah satu anggota keluarga meninggal dunia, maka yang paling ditekankan dalam pengurusan jenazah adalah  keluarga terdekat terlebih dulu. Utamanya adalah yang mempunyai ilmu dalam sunnah. Salah satu tujuannya adalah menjaga aib jenazah agar tetap terjaga. 


Jika istri meninggal dunia, maka suami lebih ditekankan mengurusi jenazah istri, begitupun sebaliknya. Istri juga boleh mengurus jenazah suami. 


Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 


مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي، فَقُمْتُ عَلَيْكِ، فَغَسَّلْتُكِ، وَكَفَّنْتُكِ، وَصَلَّيْتُ عَلَيْكِ، وَدَفَنْتُكِ»


“Tidak jadi masalah bagimu, jika kamu mati sebelum aku. Aku yang akan mengurusi jenazahmu, aku mandikan kamu, aku kafani, aku shalati, dan aku makamkan kamu.” (HR. Ibn Majah 1465, dan dinilai hasan oleh al-Albani)


Ada beberapa tahapan dalam pengurusan jenazah: 

  1. Memandikan Jenazah

Tata cara memandikan jenazah : 

  • Membaca bismillah 

  • Didudukkan, tekan-tekan perutnya & dikeluarkan kotorannya

  • Mewudhukan

  • Dimandikan (dari kepala kemudian badan bagian depan & belakang sebelah kanan dahulu kemudian yang kiri, kemudian disiram seluruh tubuh.

  • Dibersihkan dengan sabun, kemudian siram kembali sampai bersih bisa 3x, boleh diulang dalam hitungan ganjil apabila dirasa masih belum bersih. Dianjurkan siraman terakhir dengan kapur barus/ daun bidara.


Dalam memandikan mayat, tangan sebaiknya dilapisi dengan kain, Lap atau semacam sarung tangan agar aurat terjaga.


  1. Setelah memandikan tahapan berikutnya adalah mengkafani, sunnahnya : 


  • Mengkafani dengan 3 lapis kain kafan (pendapat syaikh Al Albani rahimahullah). Ada beberapa perbedaan pendapat dalam hal ini. Jenazah wanita disunahkan untuk dikafani dengan 3 lapis kain sebagaimana jenazah laki-laki. Adapun hadits Laila bintu Qais ats-Tsaqafiyah tentang pengkafanan putri Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan lima kain kafan, kata Syaikh al-Albani rahimahullah sanadnya tidak sahih karena ada rawi bernama Nuh bin Hakim ats-Tsaqafi. Dia adalah rawi yang majhul.

  • Kain kafan menutupi seluruh anggota badan.

  • Kain kafan dianjurkan yang cukup tebal.

  • Tiap lembar kain kafan dibubuhi wewangian.

  • Memberi wewangian pada wajah mayit & ketujuh anggota sujud. Posisi tangan jenazah diperbolehkan dalam posisi bersedekap atau diluruskan disamping badannya.

  • Lembaran kain kafan pertama dilipat sebelah kiri terlebih dahulu kemudian sebelah kanan, menyusul lembaran kedua dan ketiga. Rapikan lapisan terakhir dengan baik.  

  • Menambatkan tali pengikat berjumlah 5 utas tali, yaitu di kepala, leher, pinggang/badan, lutut dan kaki.

  • Gulungkan kain kafan pada ujung kepala & kaki.


  1. Menyalatkan. 

  • Batas minimalnya adalah 3 shaf. 

  • Posisi imam tetap ada di depan makmum, bukan sejajar dengan makmum.


  1. Tahapan terakhir adalah menguburkan.

  • Dimakruhkan bagi wanita mengikuti jenazah sampai ke pemakaman.

  • Diperbolehkan menangisi jenazah asal tidak meratapi (meraung-raung). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga menangis saat putra beliau yang bernama Ibrahim wafat.

  • Tidak boleh berkabung lebih dari 3 hari, kecuali istri yang ditinggal suami, masa berkabungnya selama 4 bulan 10 hari.

  • Diperbolehkan bagi wanita bertakziah tetapi tidak berlama-lama. 

  • Diperbolehkan bagi wanita untuk melakukan ziarah kubur sebagai salah satu pengingat diri atas kematian. 


Faedah Kajian Ustaz Argo Abu Zahro hafizahullah