Seruan kepada Para pendidik dalam Mengarahkan Anak Laki-laki dan Perempuan

    Kitab ini ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu. Ditujukan kepada para pendidik, pengajar di kelas, orang tua, penuntut ilmu yang ingin berhasil dan memiliki masa depan cerah, anak-anak yang menginginkan kebahagiaan dengan pendidikan dari orang tua mereka, serta untuk kaum muslimin yang semoga tulisan ini turut andil menciptakan generasi yang lebih baik, yang mengikuti Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Beliau menukilkan sebuah hadis sahih di awal kitab sebelum menuliskan ilmu:


“Tidaklah seseorang terbangun pada malam hari, kemudian dia berzikir dengan mata terjaga, dengan dzikir LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMD WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAIIN QODIIR SUBHAANALLAAH WALAHAMDULILLAH WA LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAAH. Kemudian dia berdoa: ALLAAHUMMAGH FIRLII (ya allah ampunilah aku) atau dia berdoa (dengan doa bebas) niscaya akan dikabulkan doanya. Apabila dia berwudu kemudian salat, niscaya salatnya diterima oleh Allah.” (HR. Bukhari)


  • Bahwasanya kita membutuhkan doa yang setiap saat kita panjatkan karena doa adalah senjata kaum muslimin. Kita pasrahkan seluruh urusan kita kepada Allah. Tidak pantas bagi pendidik untuk meninggalkan doa, terutama malam hari. Di saat kita merasa memiliki banyak kelemahan dan ekspektasi tidak sesuai harapan, maka kita menyerahkan semuanya kepada Allah sambil ikhtiar bertanggungjawab semaksimal mungkin sebagai pendidik.


  • Sebelum melakukan kebaikan atau berharap perubahan terhadap proses pendidikan, hendaknya seseorang mengevaluasi diri, meminta ampun terhadap kesalahan atau kelalaian dalam hidupnya . Ini adalah bentuk ketakwaan dari pendidik. Jika di kemudian hari menemukan kesalahan pada anak didik, dia ingat bahwa dia pun pernah salah dan senantiasa meminta ampun kepada Allah. Anak didiknya itu layak dimaafkan, sehingga tidak menimbulkan rasa dendam padanya.


  • Bahwasanya yang kita miliki adalah kepunyaan Allah, termasuk ilmu para pendidik. Karenanya melihat anak didik yang butuh perhatian, yang muncul adalah perasan cinta bukan benci, rasa memaafkan bukan membalas dendam. 


  • Tugas dan amalan seorang pendidik adalah paling mulia jika benar-benar dibaguskan dan disertai dengan ikhlas hanya kepada Allah. Mereka harus belajar dan mengetahui ilmu mendidik dengan cara islami dan benar. 


  • Guru adalah pendidik generasi yang ada. Ia adalah orang yang berpengaruh pada bagus dan rusaknya masyarakat. Jika ia mengajarkan kebaikan dengan ikhlas lalu mengarahkan pada agama dan akhlak islam, maka anak akan merasakan kebahagiaan. 


  • Bahwasanya pendidikan adalah tanggungjawab bersama. Masing-masing bisa berperan sesuai bidangnya, terutama untuk keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Ajak mereka untuk melakukan kebaikan dengan ilmu yang kita punya sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjuang dengan diri dan hartanya demi dakwah islam.


Orang yang mengajarkan kebaikan (kepada orang lain) akan dimintakan ampunan oleh semua makhluk, sampai ikan-ikan di lautan”. (HR. Thabrani).


Faedah Kajian Ustaz Mu’tasim, Lc, MA