Wasiat kepada Pemuda (part 9)

        Dari Ja’far bin Sulaiman, murid Tsabit Al-Hunani, beliau menceritakan bahwa suatu hari Tsabit Al-Hunani keluar menuju kami dan kami sedang duduk di masjid arah kiblat. Kata Tsabit: “Wahai para pemuda, kalian telah menghalangiku dan rabbku, aku tidak bisa sujud (salat) kepadaNya (karena mereka duduk di arah kiblat). Seorang ahli ibadah tidak bisa dianggap sebagai ahli ibadah sejati meski punya semua perangai kebaikan sampai ia memiliki 2 tabiat: puasa dan salat”. 


Faedah yang bisa diambil: 

1. Agar pemuda menjaga kemuliaan masjid, sehingga ia termasuk dari golongan yang mendapatkan naungan Allah di saat tidak ada naungan selain-Nya. 


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”


(HR. Bukhari & Muslim)


2. Memperhatikan kemuliaan dan kedudukan orang yang ada di dalam masjid. Jangan diganggu dengan kegiatan-kegiatan yang tidak penting. Beri ketenangan sehingga mereka bisa khusyuk dalam beribadah. Termasuk gangguan di zaman ini adalah gawai (handphone). Gawai harus di-silent saat masuk masjid. 


Faedah Kajian Ustaz Abu Muhammad hafizahullah